A Bend
Collaboration night malam ini dibuka dengan sambutan dari para direktur utama pemegang kepentingan project dari beberapa perusahaan yang terlibat. Seperti biasa, ucapan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang sudah membantu menyukseskan salah satu project terbesar mereka.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan formal telah berlangsung, sekarang sudah masuk sesi free time dimana seluruh undangan dapat berbincang dan menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Bian memanfaatkan momen ini untuk memperluas relasinya sebagai orang baru, dia berbincang dengan banyak direksi khususnya para direksi NODUS yang juga hadir pada acara malam itu. Setelah puas berkenalan dan berbincang singkat, Bian mengambil segelas white wine lalu berdiri di area yang langsung menghadap balkon.
Sesekali ada beberapa perempuan yang mengajaknya bicara dan menawarkan untuk bergabung dengan mereka. Sabiano tetaplah Sabiano, dia tidak tertarik dan langsung menolak dengan sopan tawaran apapun yang tidak berhubungan dengan kepentingannya.
Bian melirik ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Dia sudah merasa cukup dan berniat untuk meninggalkan tempat itu, tetapi matanya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Kai sedang berada di balkon dengan seorang perempuan yang tidak Bian kenali. Niatnya untuk pulang seakan hilang begitu saja saat melihat interaksi Kai dengan perempuan itu, mereka berbicara dan bercanda seakan sudah kenal sedari lama. Perempuan itu bukan salah satu team NODUS jakarta yang berangkat bersama mereka, maka dari itu Bian benar-benar asing dengan perempuan tersebut.
“Bukan urusan gua sih harusnya, lagian semua orang wajar punya kenalannya masing-masing juga.” Pikirnya.
Sesaat Bian berniat untuk benar-benar pergi kali ini, dia melihat perempuan itu perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah Kai. Bian bingung, menurutnya itu bukan interaksi antara rekan kerja yang sewajarnya apalagi dia tau Kai sudah punya kekasih.
Beberapa detik kemudian, Kai terlihat tanpa ragu membalasnya dengan pelukan singkat. Balkon tersebut memang sepi, karena semua orang lebih memilih fokus menikmati acara di dalam ballroom.
Bian yang telah jelas melihat semua yang ada di depan matanya, langsung memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Perasaan nya campur aduk, dia tidak tahu harus apa dengan kejadian yang dia lihat tadi. Haruskah dia berpura-pura tidak tahu apa-apa dan menganggap ini bukan urusannya seperti hal biasa yang dia lakukan?