Tak ada rute sepeda di belantara aspal. Kami berjalan di antara gedung-gedung yang tak mengenal pelan, di belok kiri jalan terus, patung kuda menyala, mengajak berpacu mengejar waktu yang tak pernah menunggu.
Bundaran hanya sepi saat malam, saat lampu-lampu kota menyala tanpa makna, dan kartu pos tinggal kenangan, gambaran cerita silam yang tak lagi dikirim, karena sahabat pena telah tenggelam dalam hiruk pikuk yang kadang senyap.
Kami terhubung begitu jauh, entah di mana, dalam segenggaman yang meniadakan tegur sapa. Di depan, di sekitaran keberadaan, orang-orang berselancar dalam diam, menatap layar, bukan wajah.
Tak ada tanya, tak ada jeda, hanya notifikasi yang menggantikan sapaan, emoji yang menggantikan pelukan, dan status yang menggantikan cerita.
Kami hidup dalam jaringan, tapi kehilangan jalinan. Cukup dalam segenggaman, kami saling menjauh dalam kedekatan yang semu.