Rambut panjang, keusilan kecil, dan cerita konyol di Kampung 

Pict: Edward Elric dari “Fullmetal Alchemist” Aku tak pernah menyangka bahwa perjalanan hidup (selama berambut panjang), sejak 15 Maret 2020 sampai 18 Juli 2024, bisa berubah jadi semacam eksperimen sosial yang tanpa sengaja, turut mendokumentasikan respon publik terhadap suatu gaya rambut. Semula kukira kehidupan di kampung dan lingkungan pertemananku, akan jadi sedikit konservatif untuk menerima… Lanjutkan membaca Rambut panjang, keusilan kecil, dan cerita konyol di Kampung 

Fullmoon, 17 November nanti malam

Pict: “One Piece” Dalam setiap pergantian waktu, saya sudah biasa menjadi biasa, mengamati sesuatu tanpa merasa perlu menguasai atau ingin memiliki. Saya tidak mengantisipasi hal yang megah atau mulia, sebab sejak awal, saya belajar, bahwa harapan yang berlebihan kerapkali mengesalkan. Anehnya, justru ketika saya tidak menunggu, kabar-kabar tentang masa depan, malah ada saja yang  berdatangan… Lanjutkan membaca Fullmoon, 17 November nanti malam

Stop! Itu bukan urusan

Pict: “One Piece” Sejak dulu, saya tidak pernah benar-benar terganggu oleh apa yang sering disebut “pakem umum”. Konsep-konsep sosial yang sudah tua itu, bahwa pada usia tertentu seseorang harus mencapai sesuatu, bahwa langkah hidup harus seragam, bahwa urusan pasangan adalah ‘checklist’ yang wajib, semua itu bagi saya hanyalah hantu-hantu yang bergentayangan hingga dianggap alamiah. Sejujurnya,… Lanjutkan membaca Stop! Itu bukan urusan

Kampung, gladi bersih, dan musik metal

Pict: Sabo & Koala dari “One Piece” Kupikir hidup di lingkungan pesantren bakal membentukku jadi pribadi yang serba terkendali, kaku, tertib, atau barangkali sedikit konservatif dan sok. Tapi hidup rupanya tidak begitu, ia masih punya selera humor. Lagu-lagu favoritku pernah jadi backsound acara keagamaan di kampung, cuma pas break, tapi tetap… kocak parah. Hari itu… Lanjutkan membaca Kampung, gladi bersih, dan musik metal

Sekarang, belakangan, atau sambil jalan?

“Violet Evergarden” Akhir-akhir ini saya sering merefleksikan sesuatu, seolah ada ruang teduh yang terbuka di dalam kepala saya setiap kali hari mulai melambat. Bagaimana kalau saya menulis novel? Pertanyaan itu muncul begitu saja, seperti tamu yang tak diundang namun duduk nyaman di ruang batin saya. Saya bertanya-tanya apakah perjalanan hidup yang biasa-biasa saja; dari kehidupan… Lanjutkan membaca Sekarang, belakangan, atau sambil jalan?