Wilayah ujung barat Indonesia, khususnya Sabang, memiliki posisi geografis yang sangat strategis sekaligus rentan secara ekologis. Konsep sinergi antara pembangunan ekonomi dan pelestarian alam menjadi harga mati jika kita ingin melihat keindahan bawah lautnya bertahan hingga berabad-abad mendatang. Sabang bukan sekadar titik nol kilometer, melainkan jantung dari keanekaragaman hayati laut yang menjadi rumah bagi ribuan spesies terumbu karang dan ikan pelagis. Menjaga keseimbangan di wilayah ini memerlukan pendekatan yang terintegrasi, yang melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, dan para pelaku industri pariwisata dalam satu visi yang sama.
Keseimbangan ekosistem di pesisir Sabang sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola interaksi antara daratan dan lautan. Setiap aktivitas di darat, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pengelolaan limbah rumah tangga, akan bermuara di laut. Jika hutan mangrove dan vegetasi pantai di sekeliling Sabang rusak, maka benteng alami yang melindungi terumbu karang dari sedimentasi akan hilang. Tanpa perlindungan ini, ekosistem bawah laut yang menjadi daya tarik utama akan mengalami degradasi yang sulit dipulihkan. Oleh karena itu, sinergi yang dimaksud mencakup perlindungan kawasan hijau di darat demi kesehatan laut yang berkelanjutan.
Dalam konteks laut, Sabang memiliki tantangan tersendiri terkait arus yang kuat dan lalu lintas kapal internasional. Sebagai kawasan yang berbatasan dengan jalur pelayaran sibuk, risiko pencemaran minyak dan sampah plastik menjadi ancaman nyata. Masyarakat Sabang telah lama memiliki kearifan lokal seperti Panglima Laot, sebuah lembaga adat yang mengatur tata cara penangkapan ikan dan perlindungan wilayah laut. Menghidupkan kembali dan memperkuat peran lembaga adat ini adalah salah satu cara paling organik untuk menjaga sumber daya alam. Sinergi antara hukum formal negara dan hukum adat lokal terbukti mampu menekan angka penangkapan ikan ilegal dan penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan.
Pembangunan ekonomi di sektor pariwisata harus diarahkan pada konsep eco-tourism yang tidak eksploitatif. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Sabang perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga terumbu karang. Misalnya, dengan tidak menyentuh biota laut saat menyelam dan tidak meninggalkan sampah di area pantai. Jika keseimbangan ini terjaga, maka dampak positifnya akan kembali ke masyarakat dalam bentuk peningkatan ekonomi yang stabil. Keindahan alam yang terjaga adalah aset jangka panjang yang jauh lebih bernilai daripada keuntungan sesaat dari eksploitasi yang merusak.